About
Di sela-sela hutan tropis dan lereng perbukitan Dairi, mengalirlah sebuah aliran sungai yang menyimpan rahasia batin dan legenda: Air Terjun Lae Pandaroh (juga sering disebut Lae Pendaroh). Nama Lae dalam bahasa Batak berarti sungai, sedangkan Pandaroh konon menyiratkan arus yang dalam dan berliku melambangkan misteri alam sekaligus ketenangan hati.
Menurut cerita lokal, air terjun ini bukan sekadar aliran air biasa, melainkan memiliki roh penjaga yang menjaga keseimbangan alam dan memberikan rasa aman bagi penduduk setempat. Konon, pada malam-malam tertentu, gemericik air berpadu dengan nyanyian angin dan gemuruh hutan, menciptakan aura mistis yang sulit dijelaskan. Beberapa tetua marga Silalahi atau Sitinjo mengaku pernah merasakan kehadiran lembut di antara semilir embun dan kabut tebal yang turun di lembah.
Daya tarik Lae Pandaroh terletak pada kombinasi kesederhanaan dan keindahan: air terjun ini memiliki beberapa tingkatan (lapisan) yang membuat aliran airnya berundak, menciptakan kolam kecil dan rongga alami di batuan. Beberapa tingkatan membentuk jembatan alami, menjadikan tempat ini ideal untuk trekking ringan, piknik, dan merenung di atas batu sambil mendengarkan aliran air yang menenangkan jiwa.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk merasakan energi alam:
Menyusuri jalan setapak menuju air terjun dan menemukan sudut tersembunyi dari setiap tingkatan.
Bermeditasi atau berdoa di pondok kayu dekat air terjun, ditemani gemuruh air yang mengalir.
Berfoto di jembatan batu alami, merasakan sensasi berada di atas aliran sungai.
Interaksi dengan masyarakat lokal Sitinjo: pedagang kecil menjual minuman segar dan camilan khas Batak, sementara penduduk setempat menceritakan kisah marga, tradisi, dan ritual kuno yang diwariskan secara lisan.
Tidak mengherankan, Lae Pandaroh dianggap sebagai wajah spiritual dan alamiah Danau Toba bagian utara, tempat di mana alam berbicara dengan lembut dan jiwa manusia disapa dengan kesederhanaan.
